Senin, 30 September 2013

@ja dumeh...

Aja dumeh dadi panguwasa banjur sia-sia marang sapadha-padha.
Aja dumeh kanggonan drajat lan pangkat banjur sawenang-wenang marang liyan.
Aja dumeh katitipan bandha donya banjur ora ngajeni marang tanggane.
Aja dumeh katempelan ngelmu agal alus banjur nglirwakake mring sasoma.
Aja dumeh rumangsa sugih ngelmu agama banjur ngremehke seni lan budaya.
Aja dumeh bagus rupane banjur cidra marang janjine.
Manungsa amung sak derma hanglakoni.
Kabeh mau amung titipane Allah Kang Murbeng Dumadi.Yen wis titi mangsane langsung ilang sak nalika bali marang Kang Kuwasa. Kamangka uripe manungsa iku amung sak kedheping netra.

Minggu, 29 September 2013

IRI dan SOMBONG

Iri adalah merasa kalah terhadap orang lain, dan sombong adalah merasa menang terhadap orang lain. Iri dan sombong inilah yang menyebabkan orang berusaha keras, mati-matian, berjungkir balik, untuk memperoleh semat (kekayaan), derajat (kedudukan) dan kramat (kekuasaan). Hatinya berkata: “Sebaiknya kucari uang sebanyak-banyaknya agar menjadi kaya seperti orang itu, dan jangan sampai miskin seperti orang ini; agar bisa mengejek orang ini dan jangan sampai diejek orang itu. Dan kuharus memperoleh derajat yang luhur, supaya mulia seperti orang itu, dan jangan sampai hina seperti orang ini, sehingga terhormat seperti orang itu, dan tidak diremehkan seperti orang ini. Harus kucari kramat (kekuasaan) yang besar, supaya berkuasa dan dapat menaklukkan orang itu. Jangan sampai lemah dan ditaklukkan orang ini.” Begitu hebat usahanya, hingga ia merasa “lebih baik mati jika tidak tercapai” --------- Perasaan “lebih baik mati jika tidak tercapai” itu bila sering terlintas dalam pikiran, dapat membangunkan tekad yang aneh-aneh dan bertapa yang aneh-aneh. Orang yang sedang dihinggapi iri-sombong ini cenderung mencari guru-guru atau dukun-dukun. Pada guru atau dukun itu dimintanya petunjuk: “Bagaimana kyai, hidupku ini mengapa senantiasa susah. Apakah memang nasibku harus dibenci orang? Bagaimana baiknya?” Jika guru atau dukun itu mengatakan: “Sanggupkah anda bertapa secara ditanam selama empat puluh hari? Itu memang berat tetapi bila dikurniakan, tentu nasibmu akan lebih baik.” Makin gelap pikirannya namun karena terbenam dalam rasa iri-sombong, ia akan menyanggupinya: “Baiklah saya bersedia ditanam, asal dapat kurnia. Andaikata aku gagal dan mati, itu pun justru lebih baik dari pada hidup sekali saja menjadi buah ejekan tetangga-tetangga, kesana diejek, kesini diejek.” Bilamana benar-benar digali lobang untuknya dan ia memeriksanya serta menengok ke kanan ke kiri, tiba-tiba ia merasa ngeri: “Kyai, jika penguburan diriku ditangguhkan saja sampai setelah tanggal dua saja, bagaimana?” ------------- Bila orang mengerti bahwa rasa orang sedunia itu sama, teranglah pandangannya. Kemudian ia tahu bahwa orang yang ditanam selama empat puluh hari, pasti akan mati karena tidak dapat bernapas. Mengingat bahwa jika dibungkam selama dua menit saja, orang sudah kehabisan napas, bagaimanakah bila ditanam empat puluh hari? ------------- Idam-idaman orang yang iri hati atau sombong ialah asal dapat melebihi orang lain dalam segala hal. Dalam hal makanan, pakaian, perumahan, keluarga, anak-anak dan sebagainya, ia ingin melebihi orang lain. Sedangkan orang-orang lain pun ingin menyaingi atau melebihi orang lain lagi. Dari itu beribu-ribu, berjuta-juta manusia, bila dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah satu sama lain bersaingan sehingga semuanya jatuh ke bawah. --------------- Bila dalam usahanya untuk melampaui orang lain ia sering tergelincir bahkan ia justru dilampaui orang lain, maka kesallah hatinya, “Baik, sekalipun aku kalah asal saja tetanggaku itu hidupnya merana, maka senanglah hatiku.” Sedangkan tetangganya pun berusaha menyusahkan orang lain. Dari itu beribu-ribu, berjuta-juta manusia bila dijangkiti iri-sombong, tindakannya hanyalah saling menyusahkan.

Jumat, 27 September 2013

"BEJA SAWETAH" Miturut Ki Ageng Suryomentaram

Di atas bumi dan di kolong langit ini tidak ada barang yang pantas dicari, dihindari atau ditolak secara mati-matian. Meskipun demikian manusia itu tentu berusaha mati-matian untuk mencari, menghindari atau menolak sesuatu, walaupun itu tidak sepantasnya dicari, ditolak atau dihindarinya. Bukankah apa yang dicari atau ditolaknya itu tidak menyebabkan orang bahagia dan senang selamanya, atau celaka dan susah selamanya. Tetapi pada waktu orang menginginkan sesuatu, pasti ia mengira atau berpendapat bahwa “jika keinginanku tercapai, tentulah aku bahagia dan senang selamanya; dan jika tidak tercapai tentulah aku celaka dan susah selamanya”.---------- Pendapat di atas itu teranglah keliru. Bukankah sudah beribu-ribu keinginannya yang tercapai, namun ia tetap saja tidak bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi? Juga sudah beribu-ribu keinginannya yang tidak tercapai, namun ia tetap saja tidak celaka, melainkan bersusah hati sebentar kemudian senang kembali. Jadi pendapat bahwa tercapainya keinginan menyebabkan rasa bahagia atau tidak tercapainya keinginan menyebabkan rasa celaka, jelaslah keliru. Tetapi setiap keinginan pasti disertai pendapat demikian.----------------------------- Sebagai contoh, ketika orang berkeinginan sesuatu, misalnya berhajat mengawinkan anaknya, dan karena ia tidak punya cukup uang, ia akan mencari pinjaman.Di dalam mencari pinjaman itu ia merasa: “Jika usahaku untuk mencari pinjaman ini tidak berhasil, pastilah aku celaka dan merasa malu selamanya”. Andaikata ia gagal memperoleh pinjaman, ia tidak akan merasa celaka, melainkan hanya merasa malu sebentar. Kemudian setelah merasa susah karena ia tidak dapat mengundang siapa pun, tidak dapat menanggap (mempertunjukan) wayang dan tidak dapat mengadakan janggrungan (tarian bersama antara penari-penari dan tetamu-tetamu dalam pesta perjamuan orang Jawa), ia pun akan merasa senang lagi, bahkan lega hatinya.”Wah, untunglah usahaku mencari hutang tempo hari tidak berhasil. Andaikata aku berhasil, pasti sekarang ini aku akan kelabakan (gelisah) mencari uang untuk membayar hutang itu kembali.” Demikianlah, maka jelaslah bahwa tidak tercapainya keinginan tidak menyebabkan orang merasa celaka.------------------------ Demikian juga keinginan yang tercapai tidak menyebabkan orang merasa bahagia. Misalnya orang berhasrat keras untuk kawin. Ia merasa: “Jika si Anu itu menjadi suami/isteriku, berbahagialah aku.” Dibayangkannya: “Jodohku itu akan kugandeng selama tiga tahun tanpa kulupakan.” Tetapi bila hasrat kawinnya itu benar-benar terlaksana, ia pun tidak akan sungguh-sungguh bahagia, melainkan hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Bahkan sering terjadi dalam perkawinan bahwa sesudah seminggu saja sudah terjadi pertikaian.----------------------- Jadi teranglah bahwa jika keinginan itu tercapai maka hal itu tidak menyebabkan bahagia dan jika tidak tercapai, tidak pula menyebabkan celaka. Kenyataannya ialah bahwa senang dan susah itu tidak berlangsung terus menerus. Sepanjang hidup manusia sejak masa kanak-kanak sampai tua, ia belum pernah mengalami senang selama tiga hari tanpa susah, atau mengalami susah selama tiga hari tanpa senang. Pengalaman semacam itu tidak akan terjadi dan tidak mungkin dapat dialami.------------------------------ Yang menyebabkan senang ialah tercapainya keinginan. Keinginan tercapai menimbulkan rasa senang, enak, lega, puas, tenang, gembira. Padahal keinginan ini bila tercapai pasti mulur, memanjang, dalam arti meningkat. Ini berarti bahwa hal yang diinginkan itu meningkat entah jumlahnya entah mutunya sehingga tidak dapat Ki Ageng Suryomentaram 9tercapai dan hal ini akan menimbulkan susah. Jadi senang itu tidak dapat berlangsung terus-menerus.----------------------------------------------- Misalnya menjelang hari raya orang ingin membeli sarung baru. Kata hatinya: “Bila aku dapat membeli sarung baru, pasti aku akan bahagia, yakni tetap senang. Pada hari besar nanti, aku dapat melancong ke mana-mana.” Andaikata sarung baru itu dapat dibelinya ia pun tidak akan bahagia, melainkan bergembira sebentar kemudian susah lagi. Oleh karena keinginannya itu mulur, maka ia merasa: “Memang, meskipun sarungnya sudah baru, ikat kepalanya pun harus baru.” Maka ia ingin membeli ikat kepala, tetapi uangnya tidak cukup, maka gagallah keinginannya dan susahlah ia. Demikianlah senang tidak berlangsung terus menerus. Andaikata pun kelak ia dapat membeli sarung dan ikat kepala baru, pasti keinginannya mulur lagi. Hatinya akan berkata: “Sekarang sarung dan ikat kepalanya sudah baru, dan bagaimanakah bajunya? Tidakkah harus baru pula?” ----------------- Kemudian bila pakaiannya baru sudah ada, tentu keinginannya mulur lagi. Sandalnya, arlojinya, kendaraannya, rumahnya harus baru pula. Bila semua itu sudah ada, pasti keinginannya akan mulur lagi: “Sekarang semua barang sudah baru, mengapa isterinya masih yang lama saja. Agar tidak dikatakan aneh maka ia mencari isteri baru.” Bila nanti memperoleh isteri baru, pasti mulur lagi: “Anaknya pun harus ada yang baru karena mengapa yang ada hanya anak dari isteri lama saja?” Demikianlah keinginan itu mulur sehingga apabila apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya maka susahlah ia. Jelaslah bahwa senang itu tidak tetap adanya. ----------------- Keinginan itu terwujud dalam usaha mencari semat, derajat dan kramat. Meneari semat ialah mencari kekayaan, keenakan, kesenangan. Mencari derajat ialah mencari keluhuran, kemuliaan, kebanggaan, keutamaan. Mencari kramat ialah mencari kekuasaan, kepercayaan, agar disegani, agar dipuja-puji. ------------------ Misalnya orang mencari semat/kekayaan agar ia berpenghasilan tetap. Rasa hatinya berkata: “Jika aku berpenghasilan tiap bulan sepuluh rupiah saja, aku tentu bahagia. Tidak seperti sekarang ini, kadang-kadang hanya tiga rupiah, bahkan kadang-kadang juga rugi.” Bila usahanya berhasil, maka dalam kenyataannya ia tidak bahagia, namun hanya senang sebentar dan kemudian susah lagi. Ini disebabkan karena keinginannya mulur sebagai berikut: “Ternyata penghasilan sepuluh rupiah ini tidak membuat aku bahagia. Jika berpenghasilan dua puluh ]ima rupiah, barulah aku akan benar-benar bahagia.” Nanti bila sudah memperoleh dua puluh lima rupiah keinginan pun mulur lagi. “Kalau aku hanya menerima dua puluh lima rupiah saja, terang tidak mungkin aku bahagia. Bahkan hal itu akan menambah banyak hutangnya, karena dipercaya untuk membeli dengan bon, hingga ke sana ke sini aku membuat bon. Hanya jika aku berpenghasilan seratus rupiah, baru aku benar-benar bahagia.” Nanti bila ia berhasil memperoleh seratus rupiah keinginannya pun mulur lagi dan ia ingin dua ratus, tiga ratus rupiah. Sampai berpenghasilan beribu-ribu rupiah, berjuta-juta rupiah, masih kurang terus. Demikianlah keinginan itu mulur sampai pada suatu ketika ia tidak mungkin dipenuhi dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap adanya. --------------------- Demikian pula dalam usaha mencari kenaikan derajat. Andaikata orang sudah menjadi asisten wedana, pasti keinginannya mulur dan ia ingin menjadi wedana. Kemudian setelah menjadi wedana, tentu keinginannya mulur lagi dan ia ingin menjadi bupati. Sekalipun sudah menjadi raja, ia kemudian ingin menjadi raja dari semua raja. Andaikata terlaksana menjadi raja dari semua raja, pasti hatinya berkata. “Ternyata menjadi raja dari semua raja itu tidak membuat aku bahagia, karena memerintah manusia itu ternyata bukan main banyak kesulitannya.” “Mungkin kalau menjadi raja jin, barulah aku benar-benar bahagia. Bila sudah menjadi raja jin, pasti mulur lagi, ingin menjadi raja binatang, kutu, serangga, yang berupa anjing tanah, kacuak, tokek dan sebagainya. Demikian mulurnya keinginan sampai apa yang diinginkannya tidak dapat diperolehnya dan oleh karena itu ia kembali susah lagi. Jadi senang itu tidak tetap. --------------------- Demikian pula dalam usaha memperoleh kramat atau kesaktian. Misalnya jika orang telah memiliki kesaktian dengan dapat menyembuhkan orang sakit lumpuh dengan meniupnya saja. Ia belum juga bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian Ki Ageng Suryomentaram 10 susah lagi, karena mulurnya keinginannya. Hatinya berkata: “Kalau hanya dapat menyembuhkan orang lumpuh dengan meniupnya saja, aku tidak berbahagia. Akan tetapi kalau dapat menghidupkan orang mati, aku tentu bahagia, karena siapapun akan percaya, segan, takut kepadaku dan akan memujaku.” la akan berusaha ke sana sini untuk dapat menghidupkan orang mati. PadahaI sekolahnya untuk mempelajarinya tidak ada. Andaikata ia pun berhasil, setelah dapat menghidupkan dua orang saja, maka timbul kekhawatirannya. “Celakalah aku nanti. Jika setiap orang mati kuhidupkan kembali. Mayat-mayat dari mana-mana pasti akan dibawa kemari semua, dan aku disuruh menghidupkannya. Halaman rumahku pasti akan penuh dengan bangkai anjing, babi hutan dan lain-lain. Mungkin kalau aku dapat mengeluarkan sukma dari badan, aku baru benar-benar bahagia. Aku akan dapat melayang-layang mengelilingi dunia melihat negeri Belanda, negeri Cina, tanpa melakukan perjalanan, tanpa susah payah, lagi pula tidak kehilangan uang untuk bekalnya.” Ia akan ke sana ke sini berusaha keras supaya bisa melepaskan sukmanya dari badannya, sedangkan sekolah untuk mempelajarinya belum ada. Andaikata ia berhasil melepaskan sukmanya dari raganya, ia pun tidak akan benar-benar bahagia, melainkan senang sebentar, kemudian susah lagi. Hatinya berkata “Susahlah aku bila sukma yang acapkali dilepas itu sampai tidak dapat kembali lagi ke tempat asalnya. Namun manakala aku bisa menghilang, pastilah aku betul-betul bahagia. Aku akan dapat menggaruk uang di pasar-pasar tanpa diketahui pemiliknya, dan tiap kata ada orang sedang menghitung uang, uang itu kuambil. Dengan tidak usah bekerja, aku dapat memiliki banyak uang, dan apa pun kuhendaki pastilah tercapai”. ----------------------------- Bila ia kemudian berhasil dapat menghilang, tentu keinginannya mulur lagi, sehingga ia ingin bisa terbang, bisa menembus bumi dan seterusnya. Demikianlah mulurnya keinginannya sampai apa yang diinginkannya tidak dapat ia peroleh, maka susahlah ia. Jadi jelaslah bahwa lahirnya keinginan dalam usaha mencapai semat (kekayaan), derajat (kedudukan), kramat (kekuasaanl, apabila sudah terlaksana pasti akan mulur. Maka senang itu tidak tetap sifatnya. ------------------------------------------------------------------------------- Demikian pula rasa susah pun tidak tetap. Karena susah itu disebabkan tidak tercapainya keinginan yang berwujud rasa tidak enak, menyesal, kecewa, tersinggung, marah, malu, sakit, terganggu dan sebagainya. Padahal keinginan itu bila tidak tercapai pasti mungkret (menyusut), dalam arti bahwa apa yang diinginkan itu berkurang baik dalam jumlah maupun mutunya, sehingga dapat tercapai, maka timbullah rasa senang. Jadi rasa susah itu tidak tetap. --------------------------------------- Bila keinginan yang mungkret ini masih tidak terpenuhi, pasti ia akan mungkret lagi. Mungkretnya keinginan ini baru berhenti bila dapat terpenuhi keinginan itu. Tentunya apa yang diinginkan itu memang ada atau mudah diperoleh, sehingga keinginan itu terpenuhi dan timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap adanya. --------------------------------------- Misalnya orang lapar ingin makan, tentu dipiiihnya lauk-pauk yang serba lezat, seperti daging, telur dan sebagainya. Tetapi bila keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pasti mungkret, sehingga makan nasi dengan garam saja ia sudah senang. Bila nasi dengan garam pun tidak diperolehnya pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga makan ketela bakar saja ia sudah girang. Bila ketela bakar pun tidak ia peroleh, pasti keinginannya mungkret lagi, sehingga dengan diteguknya air saja, cukup sejuklah lidahnya. --------------------------------------- Contoh yang makin jelas lagi ialah bila seorang laki-laki ingin mempunyai seorang isteri, maka dipilihnya tentu yang cantik, masih perawan, kaya, keturunan priyayi, cerdas, berbakti, cermat, cinta suami dan seterusnya. Bila keinginan-keinginannya itu tidak terpenuhi, ia pun tidak benar-benar celaka, melainkan susah sebentar, kemudian senang kembali. Oleh karena keinginannya mungkret, maka rasanya, “Walaupun syarat pilihanku tidak terpenuhi semua, asal saja cantik wajahnya bolehlah” Jika yang cantik pun tidak diperolehnya, tentu keinginannya mungkret lagi: “Walaupun tidak cantik asal saja masih perawan” Bila ini pun tidak berhasil, Ki Ageng Suryomentaram 11mungkret lagi keinginannya “Walaupun seorang janda asal saja belum punya anak.” Bila pilihan ini masih juga gagal, pasti keinginannya mungkret lagi: “Walaupun banyak anaknya, asalkan saja ia sehat” Bila keinginan ini pun tidak terpenuhi, pasti mungkret lagi keinginannya: “Walaupun cacad, asalkan berwujud orang” Padahal mencari isteri dengan syarat asal berwujud orang saja, pastilah tidak sukar, maka ia lalu merasa senang lagi. Dari sebab itulah penderita-penderita cacad, baik laki-laki atau perempuan, banyak yang bersuami/isteri. Sebab satu sama lain berjumpa dalam keadaan sama mungkret keinginannya. Demikianlah menyusutnya keinginan sampai apa yang diinginkan itu tercapai, maka timbullah rasa senang. Maka susah itu tidak tetap. ---------------------------------------- Jadi jelaslah bahwa senang dan susah itu tidak tetap. Sebab senang itu disebabkan karena keinginan tercapai, dan keinginan yang tercapai ini mesti mulur sehingga yang diinginkan tidak mungkin tercapai, maka timbullah rasa susah. Kesusahan itu disebabkan karena keinginan tidak tercapai, padahal keinginan yang tidak tercapai ini mesti mungkret sehingga apa yang diinginkan itu mungkin tercapai, maka akan tercapailah keinginan itu dan rasa senang timbul, jadi keinginan itu bila mungkret akan mencapai apa yang diinginkan maka timbullah rasa senang, dan keinginan itu mulur. Mulur ini berlangsung sehingga tidak tercapai apa yang diinginkan maka timbul rasa susah dan keinginan itu mungkret. Mungkret, tercapai, senang, mulur lagi. Mulur, tidak tereapai, susah, mungkret lagi. Maka sifat keinginan itu sebentar mulur, sebentar mungkret, sebentar mulur, sebentar mungkret. Hal inilah yang menyebabkan mengapa rasa hidup manusia itu sejak muda sehingga tua, pasti bersifat sebentar senang sebentar susah, sebentar senang, sebentar susah.

Kamis, 26 September 2013

@ AJIWUNDRI

Aji Wundri adalah ajian yang diberikan Dewi Sinta kepada Hanoman untuk memerangi Dasamuka si angkaramurka. Sesungguhnya Aji Wundri adalah pengejawantahan kekuatan seorang Ibu yang menghangatkan, yang mencintai kehidupan, tulus, perkasa dan sabar tak terbatas. Hanya orang-orang yang merasa lemah tak berdaya seperti layaknya seorang bayi yang dapat meyerap Aji Wundri. ------------------------- Diceritakan bahwa kekuatan aji wundri ini mampu mengangkat tujuh gunung seribu gajah. Kata tujuh dalam budaya arabiah (Sunan Kalijaga ngansu kawruh saking tanah mekah) menunjukkan makna kias "banyak".Sedangkan dalam budaya Jawa, untuk menunjukkan jumlah yang sangat banyak sering digunakan kata seribu, misalnya "bala sekethi" atau seribu tentara. Jadi dapat diartikan bahwa Aji Wundri mampu mengangkat banyak gunung dan gajah bahkan gunung "Swela Giri" pun terangkat ketika Sang Hanoman harus mengalahkan Aji Pancasona milik Rahwana. Aji Wundri mengalahkan aji Pancasona merupakan simbol kerendahan hati yang mampu mengalahkna lima pesona ( panca = lima, sona = pesona), yaitu pesona akan harta, pesona akan tahta, pesona terhadap wanita, pesona terhadap pusaka/ kekuatan, pesona terhadap turangga/kendaraan dan pesona terhadap kukila/ perhiasan. ----------------- Dalam istilah Jawa, kata Wundri dapat juga berarti kubahnya Masjid.kalau kita melihat kubah masjid yang mirip gunungan, itulah yang dinamakan wundri. Masjid adalah simbol segala kebaikan,di masjid itu yang ada adalah yang baik-baik saja, jadi dapat diartikan juga bahwa Wundri merupakan puncaknya segala kebaikan.

Rabu, 25 September 2013

@ Sura Dira Jayaningrat

“Suro diro jayaningrat, lebur dening pangastuti” atau yang bahasa Jawa kunonya “Sura sudira jayanikang rat, suh brastha tekaping ulah dharmastuti” bahwasanya, betapapun hebatnya seseorang, yang sakti mandraguna kebal dari segala senjata, namun manakala dalam lembaran hidupnya selalu dilumuri oleh ulah tingkah yang adigang-adigung-adiguna (mengandalkan kekuatan maupun kekuasaannya sehingga bisa berbuat sewenang-wenang dengan serta merta aji mumpungnya, maka pada saatnya niscayalah akan jatuh tersungkur dan lebur oleh ulah pakarti luhur (tindak perbuatan yang mengutamakan berlakunya nilai-nilai kemanusiaan yang luhur dan beradab guna menuju kearah terciptanya suatu masyarakat sejahtera lahir maupun batin, sebagai yang dimaksudkan dengan istilah pangastuti ataupun dharmastuti). Nilai-nilai filasfat timur yang pada hakekatnya sudah menjelma menjadi tata nilai kehidupan, dimana setiap kejahatan pasti akan dapat dihancurkan oleh kebajikan, oleh ulah pakarti yang baik, oleh berlakunya nilai-nilai keadilan dan kebenaran. --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- --- Sura dira jayaningrah dapat berarti juga segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan sikap bijak, lembut hati dan sabar. Contohnya kisah yang dialami Oleh Nyai Pamekas : Alkisah sang putra mahkota jatuh cinta kepada istri Tumenggung Suralathi yang bernama Nyai Pamekas, seorang wanita yang sepantaran dengan dirinya. Wanita yang tidak hanya cantik lahiriyah tetapi juga suci hatinya. Begitu gandrungnya sang pangeran, sampai pada suatu saat Ki Tumenggung sedang dinas luar, beliau mendatangi Nyai Pamekas yang kebetulan sedang sendirian, untuk menyatakan maksud hatinya yang mabuk kepayang Dengan tutur kata lembut dan "ulat sumeh" Nyai Pamekas berupaya menyadarkan R Citrasoma dari niat tidak baiknya, karena jelas menyeleweng dari sifat seorang ksatria dan melanggar norma-norma kesusilaan, tetapi sang Pangeran tetap ngotot. Nyai Pamekas mencoba ulur waktu, dengan mengingatkan bahwa ada banyak orang disitu yang berpeluang melihat perbuatan R Citrasoma, kecuali di"sirep" (dibuat tidur dengan ilmu sirep) Bagi seorang yang sakti mandraguna seperti R Citrasoma, tentu saja me"nyirep" orang bukan hal besar. Ketika semua orang tertidur, kembali Nyai Pamekas mengingatkan bahwa masih ada dua orang yang belum tidur yaitu Nyai Pamekas dan R Citrasoma sendiri. Lebih dari pada itu, masih ada satu lagi yang tidak pernah tidur dan melihat perbuatan R Citrasoma, yaitu Allah yang Maha Melihat, Maha Mendengar dan Maha Mengetahui. R Citrasoma terhenyak dan sadar. Minta maaf kemudian kembali ke kediamannya. Nyai Pamekas berhasil mengatasi nafsu angkara tidak dengan kekerasan. Mungkin juga kalau keras dilawan keras justru akan terjadi hal yang tidak baik. Kelembutan dan kesabaran ternyata berhasil meluluhkan kekerasan.

@Sluman Slumun Slamet

Terdapat sebuah falsafah jawa yang sering kita dengar diucapkan oleh para orang tua di Jawa dan patut kita renungkan berkaitan dengan falsafah untuk kehidupan di dunia. Falsafah tersebut adalah “Sluman Slumun Slamet”. Ada yang menarik dari kalimat tersebut. Dari kalimat tersebut ada sebuah makna dalam yang patut kita pahami untuk kemudian kita rasakan sebelum kita amalkan. Sebenarnya maknanya bagaimana? Inilah yang perlu kita diskusikan bersama!. Orang jawa bilang, hidup ini yang penting slamet, sehingga ketika kita harus menjalani hidup dan kehidupan tentu ada tujuan yang sepantasnya untuk diraih. Tujuan tersebut umumnya adalah selamat di dunia dan di akherat. Kata “Selamat” sama dengan “Slamet”, Islam sendiri menurut terminologi bahasa juga bermakna “Selamat”. Jadi sangat pas kalau orang-orang Jawa dulu memunculkan falsafah di atas agar kelak kita bisa menggunakan pedoman tersebut untuk menjalani kehidupan dengan selamat. Untuk mencapai tujuan slamet maka haruslah memiliki ilmu "Sluman" dan sifat Slumun. Sluman berasal dari kalimat Sulaiman. Kalau ingin slamet lihatlah bagaimana “lakon hidup” Kanjeng Nabi Sulaiman. Ketika menyebut Nabi Sulaiman, (orang jawa menyebut istilah Sulaiman dengan Sluman). Seperti kita ketahui Nabi Sulaiman adalah seorang Rosul yang diberi kelebihan berbagai hal diantaranya adalah dianugerahi kekayaan, menjadi penguasa pada suatu negeri, dan diberi mukjizat mampu berbicara dengan semua makhluk hidup, baik hewan, tumbuh-tumbuhan, jin, dll. Akan tetapi dengan kelebihan tersebut Kanjeng Nabi Sulaiman tidak takabur, sombong atau sewenang-wenang, justru beliau malah selalu mensyukuri, rendah hati dan adil dalam memerintah baik sesama manusia maupun dengan makluk yang lain. Slumun berasal dari kata "As Salamun" yang berarti saling mendoakan. Sebagai sesama manusia harus selalu saling menyayangi dan mengasihi. minimal saling mendoakan agar selalu diberi keselamatan. Dari pengertian di atas tentu kita harus cermat dan cerdas dalam memaknai pelajaran tersebut. Sehingga bila kita kaitkan dengan falsafah “Sluman slumun slamet″ tentu ada konsekuensinya, yaitu dalam setiap langkah pada kehidupan jangan sampai lupa untuk mendasarkan setiap sikap dan perbuatan kita pada tata krama dan adabiyah, sehingga dengan sluman slumun Insya Allah kita akan tetap selamat!

Minggu, 22 September 2013

@Ngono ya Ngono...

ngono ya ngono ning aja ngono. Jaman sekarang, kalimat itu sering dijadikan lucu-lucuan. Tapi sebetulnya mengandung makna yang dalam. Sayangnya kalimat ngono ya ngono, ning aja ngono kadang terlupakan maknanya. Bahkan mungkin ada yang menganggapnya kalimat sampah. Tapi jika diteropong lagi, kalimat itu mengandung nilai filosofis tinggi. Secara harafiah, “ngono” artinya begitu. Jadi ngono ya ngono ning aja ngono, artinya kurang lebih, “Begitu ya begitu, tapi ya jangan begitu!”. Ini baru arti harafiahnya saja. Kalimat itu biasanya diucapkan untuk mengingatkan seseorang. Jika ada orang yang perilakunya sulit ditolerir, maka biasanya diingatkan, “Begitu ya begitu (mungkin kamu betul), tapi ya jangan begitu (apa tidak ada cara yang lebih baik?)”. Ini baru arti tersiratnya saja. Belum makna filosofisnya. Perilaku saling mengingatkan tentu tidak dalam kultur Jawa saja. Dalam kultur “ngana” (baca: Menado) pun, saling mengingatkan antarsesama ini juga dirangkum dalam peribahasa indah. Si Tou Timoi Tumou Tau. artinya “manusia hidup untuk memanusiakan orang lain”. Pada dasarnya motto ini sinkron dengan prinsip “mengingatkan sesama” sebagai inti dari pepatah Jawa, ngono ya ngono ning aja ngono. Prinsip saling mengingatkan juga terkandung dalam idiom dialek Minahasa, baku beking pande (saling bikin pinter satu sama lain). Ini bukan diartikan secara dangkal, bahwa seseorang menepuk dada merasa lebih pandai dan ingin “sok mengajari”. Baku beking pande mengandung makna “saling”. Kalau ada yang kurang dan khilaf, ya wajar saja jika manusia saling mengingatkan. Tanpa perlu merasa tersinggung, gara-gara ada yang merasa digurui dan menggurui. Kata orang Jawa, tanpa perlu ada yang dituduh keminter atau mau minteri.