Selasa, 19 November 2013

Becik Ketitik Olo Ketoro

Ada ungkapan dalam bahasa jawa yang baik kita renungkan di situasi sekarang ini, di mana semua orang mengaku paling benar dan menghakimi orang lain paling tidak berguna, bersalah dan nista, yaitu :
"Becik Ketitik Olo Ketoro" artinya Orang Benar akan pasti kelihatan dan Orang yang salah/jahat akan juga pasti kelihatan". Artinya secara luas bagaimanapun kita berusaha menutupi sesuatu dengan sejuta kebohongan, tipu muslihat, grand design yang mutakhir tetap akhirnya akan nampak kebenaran yang mana dan kejahatan yang mana. 
 
Dari sini ada masalah waktu yang menentukan kita akan bertanya kapan kebenaran itu kelihatan dan kejahatan akan nampak terang benderang kelihatan, karena selang waktu ini bisa membuat orang lain menjadi korban, bisa satu orang bahkan jutaan orang jadi korban. 
Kondisi ini orang Jawa akan berkata" Wong Ora Iso ndelok githoke Dewe" artinya orang tidak bisa melihat kesalahan sendiri dan selalu menyalahkan orang lain.

Lalu apa yang harus kita maknai dari kondisi ini? Banyak Filsuf yang memberikan kata-kata bijak agar perasaan kita agak kendor dari situasi yang menegangkan dari kondisi waktu selang yang belum menunjukkan yang jahat itu kelihatan terang benderang, seperti :
Phytagoras berkata,”jika engkau ingin hidup senang ,maka hendaklah engkau rela di anggap sebagai tidak berakal atau di anggap orang bodoh”.
Cicero, Filsuf-Negarawan Masa Romawi “Hanya ada dua kata yang menuntun Anda pada kesuksesan. Kata-kata itu adalah “ya” dan “tidak. 

Di Agama Islam ada rahasia yang tahu hanya Allah Maha Pencipta yaitu Jodoh, Rejeki dan Mati.
Kalau kita mendekati logika kita tahu kapan mati (bukan Rahasia Allah) maka tidak ada kejahatan yang abadi, karena kita manusia yang sangat lihai menipu kehidupan akan berusaha jahat agar kaya dan berkuasa pada waktu tertentu dan bertobat pada kurun waktu tertentu untuk dekat dengan Allah sebelum mati. Artinya tidak ada orang yang mati sedang berjudi, mati di tempat pelacuran, mati sedang transaksi narkoba dan mati yang membuat mereka jauh dari Allah alias di cap masuk Neraka.
Mereka banyak Mati sedang Sholat, Berdzikir, Mati sedang berdoa dengan Pendeta di Gereja, mati setelah Pengakuan Dosa dengan Pendeta, Mati sedang berdoa dengan Biksu ataupun Pendeta dari Agama Budha dll yang mati dalam penyerahan diri ke Pencipta Alam Semesta dan Isinya.
Banyak doktrin yang di buat benak di otak yang di buat oleh network manusia semua kejahatan dan dosa itu yang membuat kita kaya/berharta dan berkuasa karena hakikat kebaikan (becik) atau kebajikan upahnya hanya ketika kita sudah meninggal jadi panennya di akherat. Untuk panen kehidupan kaya dan berkuasa hanya untuk orang yang berdosa. Doktrin ini banyak membawa kaum Dhuafa, serakah, materialistik pengejar kehidupan dunia menjadi kafir dan jauh dari amanah Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka di buat harus berdosa tiap hari agar hidupnya di cukupi....oh, mengerikan paham ini jika telah hadir di sendi kehidupan di Indonesia, karena kaum pecinta setan telah nyata-nyata ada di sekitar. Lalu mana yang kita sebut kebajikan kelihatan ( Becik Ketitik ) semua akan samar-samar karena kebajikan menjadi sangat transaksional yang memberikan nilai materi saja.
 
Memang hidup dengan persaingan yang sangat ketat dan ganas di jaman ini, apakah sudah sangat sulit mencari harta yang halal? Karena yang harampun terlihat sudah sangat sulit di cari. Lihat pencuri sandal di hukum yang berat, nenek mencuri beberapa buah coklat/cocoa di hukum yang berat bahkan mencuri ayam bisa mati di pukulin warga.
 
Lalu kita ingat Seklumit tentang Serat Kalatida oleh Ronggo Warsito :
Amenangi jaman edan
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada

Artinya :
Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.


Kita tidak sok atau merasa suci dalam kehidupan tetapi kehidupan yang penulis tuturkan telah hadir tiap hari di lingkungan kehidupan kita. Mari kita kuatkan rasa "Becik Kititik Olo Ketoro" agar yang benar/becik saling melindungi, saling menjaga dan bantu membantu untuk membentengi kejahatan yang tidak/atau belum kelihatan yang akan hadir.

Dikutip dari : Rio Rasyad

Tidak ada komentar:

Posting Komentar