Ada
ungkapan dalam bahasa jawa yang baik kita renungkan di situasi sekarang
ini, di mana semua orang mengaku paling benar dan menghakimi orang lain
paling tidak berguna, bersalah dan nista, yaitu :
"Becik Ketitik Olo Ketoro"
artinya Orang Benar akan pasti kelihatan dan Orang yang salah/jahat
akan juga pasti kelihatan". Artinya secara luas bagaimanapun kita
berusaha menutupi sesuatu dengan sejuta kebohongan, tipu muslihat, grand
design yang mutakhir tetap akhirnya akan nampak kebenaran yang mana dan
kejahatan yang mana.
Dari
sini ada masalah waktu yang menentukan kita akan bertanya kapan
kebenaran itu kelihatan dan kejahatan akan nampak terang benderang
kelihatan, karena selang waktu ini bisa membuat orang lain menjadi
korban, bisa satu orang bahkan jutaan orang jadi korban.
Kondisi ini orang Jawa akan berkata" Wong Ora Iso ndelok githoke Dewe" artinya orang tidak bisa melihat kesalahan sendiri dan selalu menyalahkan orang lain.
Kondisi ini orang Jawa akan berkata" Wong Ora Iso ndelok githoke Dewe" artinya orang tidak bisa melihat kesalahan sendiri dan selalu menyalahkan orang lain.
Lalu apa yang harus kita maknai dari kondisi ini? Banyak Filsuf yang memberikan kata-kata bijak agar perasaan kita agak kendor dari situasi yang menegangkan dari kondisi waktu selang yang belum menunjukkan yang jahat itu kelihatan terang benderang, seperti :
Phytagoras
berkata,”jika engkau ingin hidup senang ,maka hendaklah engkau rela di
anggap sebagai tidak berakal atau di anggap orang bodoh”.
Di Agama Islam ada rahasia yang tahu hanya Allah Maha Pencipta yaitu Jodoh, Rejeki dan Mati.
Ewuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada
Cicero, Filsuf-Negarawan Masa Romawi “Hanya ada dua kata yang menuntun Anda pada kesuksesan. Kata-kata itu adalah “ya” dan “tidak.
Di Agama Islam ada rahasia yang tahu hanya Allah Maha Pencipta yaitu Jodoh, Rejeki dan Mati.
Kalau
kita mendekati logika kita tahu kapan mati (bukan Rahasia Allah) maka
tidak ada kejahatan yang abadi, karena kita manusia yang sangat lihai
menipu kehidupan akan berusaha jahat agar kaya dan berkuasa pada waktu
tertentu dan bertobat pada kurun waktu tertentu untuk dekat dengan Allah
sebelum mati. Artinya tidak ada orang yang mati sedang berjudi, mati di
tempat pelacuran, mati sedang transaksi narkoba dan mati yang membuat
mereka jauh dari Allah alias di cap masuk Neraka.
Mereka
banyak Mati sedang Sholat, Berdzikir, Mati sedang berdoa dengan Pendeta
di Gereja, mati setelah Pengakuan Dosa dengan Pendeta, Mati sedang
berdoa dengan Biksu ataupun Pendeta dari Agama Budha dll yang mati dalam
penyerahan diri ke Pencipta Alam Semesta dan Isinya.
Banyak
doktrin yang di buat benak di otak yang di buat oleh network manusia
semua kejahatan dan dosa itu yang membuat kita kaya/berharta dan
berkuasa karena hakikat kebaikan (becik) atau kebajikan upahnya hanya
ketika kita sudah meninggal jadi panennya di akherat. Untuk panen
kehidupan kaya dan berkuasa hanya untuk orang yang berdosa. Doktrin ini
banyak membawa kaum Dhuafa, serakah, materialistik pengejar kehidupan
dunia menjadi kafir dan jauh dari amanah Tuhan Yang Maha Kuasa. Mereka
di buat harus berdosa tiap hari agar hidupnya di cukupi....oh,
mengerikan paham ini jika telah hadir di sendi kehidupan di Indonesia,
karena kaum pecinta setan telah nyata-nyata ada di sekitar. Lalu mana
yang kita sebut kebajikan kelihatan ( Becik Ketitik ) semua akan
samar-samar karena kebajikan menjadi sangat transaksional yang memberikan nilai materi saja.
Memang
hidup dengan persaingan yang sangat ketat dan ganas di jaman ini,
apakah sudah sangat sulit mencari harta yang halal? Karena yang harampun
terlihat sudah sangat sulit di cari. Lihat pencuri sandal di hukum yang
berat, nenek mencuri beberapa buah coklat/cocoa di hukum yang berat
bahkan mencuri ayam bisa mati di pukulin warga.
Lalu kita ingat Seklumit tentang Serat Kalatida oleh Ronggo Warsito :
Amenangi jaman edanEwuh aya ing pambudi
Milu edan nora tahan
Yen tan milu anglakoni
Boya kaduman melik
Kaliren wekasanipun
Ndilalah karsa Allah
Begja-begjane kang lali
Luwih begja kang eling lawan waspada
Artinya :
Hidup didalam jaman edan, memang repot.
Akan mengikuti tidak sampai hati, tetapi kalau tidak mengikuti geraknya jaman tidak mendapat apapun juga. Akhirnya dapat menderita kelaparan.
Namun sudah menjadi kehendak Tuhan. Bagaimanapun juga walaupun orang yang lupa itu bahagia namun masih lebih bahagia lagi orang yang senantiasa ingat dan waspada.
Kita tidak sok atau merasa suci dalam kehidupan tetapi kehidupan yang penulis tuturkan telah hadir tiap hari di lingkungan kehidupan kita. Mari kita kuatkan rasa "Becik Kititik Olo Ketoro" agar yang benar/becik saling melindungi, saling menjaga dan bantu membantu untuk membentengi kejahatan yang tidak/atau belum kelihatan yang akan hadir.
Dikutip dari : Rio Rasyad
Tidak ada komentar:
Posting Komentar